Bagai Buah Simalakama

 

Buah Simalakama

 Buah Simalakama sering dibuat sebagai kalimat perandaian atau berupa pepatah lama yang diartikan sebagai suatu keadaan yang paling tidak mengenakkan terjadi pada seseorang.  Sesuatu keadaan atau suasana dimana seseorang tidak mampu untuk membuat suatu keputusan berdasarkan akal dan pikiran karena apapun yang dikerjakan akan mendapat resiko besar sebagai akibat dari perbuatan tersebut, sementara keadaan tersebut harus dijalani. 

Apa memang ada Buah Simalakama? Tentu saja ada wujud dari Buah Simalakama makanya orang-orang sampai membuatnya dalam sebuah Peribahasa dan sepertinya Peribahasa seperti ini tidak ada di negeri lain, melainkan hanya di Indonesia. 

Buah Simalakama yang berasal dari kata Melayu di Sumatera, dalam bahasa sehari-hari disebut juga sebagai buah Mahkota Dewa, tentu saja diperoleh dari pohon Mahkota Dewa. Anehnya bahwa orang Melayu yang mempopulerkan nama Buah Simalakama tetapi dianggap tanaman ini berasal dari Papua, makanya nama latinnya disebut Phaleriae papuana Warb. Var. Wichannii (Val.) Back. Atau nama ilmiahnya Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl. Atau nama simplifisanya Phaleriae Fructus. 

Di Indonesia Buah Simalakama dikenal juga dengan nama Makutadewa, Makutamewo, Makutoratu, Makurojo oleh orang-orang Jawa. Kemudian orang Cina menyebutnya Pau, dan lantas dicoba-coba diterjemahkan orang ke bahasa Inggeris dengan nama The Crown of God

Penamaan selalu mengandung pengartian. Pantas juga tanaman ini disebut Mahkota Dewa karena sebagai tanaman perdu menghasilkan buah yang mampu berubah warna dari mulai hijau berubah menjadi ungu, berubah menjadi merah, berubah menjadi kuning sebelum buah tersebut gugur untuk membusuk. Buahnya tidak terlalu besar berbentuk bulatsekitar diameter 3-5 cm. 

Lalu Simalakama diambil oleh orang Melayu sebagai istilah Peribahasa karena tanaman, Buah Simalakama memang mengandung racun terutama biji dan juga sebagai tanaman obat yang dianggap mampu untuk mengobati penyakit kanker yang mematikan itu, disamping rasanya pahit. 

Pohon dan Buah Simalakama mengandung unsur kimia yang disebut alkaloid, saponin, flavonoid, polifenol (lagnan). Menurut penelitiannya bahwa senyawa kimia aktif  yang disebut lignan, masuk dalam golongan polifenol dan syringaresinol mengandung toksiditas sangat tinggi sehingga berpotensi sebagai anti kanker. Namun rekomendasi pengobatan herbal menganjurkan untuk mengobati penyakit disentri amuba, penyakit kulit seperti eksim, gatal-gatal, jerawat, proasi, melalui cara pengobatan diminum. 

Bahkan Buah Mahkota Dewa sekarang ini sudah dianggap sebagai dewa penyembuh penyakit seperti: SAKIT LEVER, KANKER, SAKIT JANTUNG, KENCING MANIS, ASAM URAT, REUMATIK, SAKIT GINJAL, TEKANAN DARAH TINGGI, LEMAH SYAHWAT DAN KETAGIHAN NARKOBA, EKSIM, JERAWAT, DAN LUKA GIGITAN SERANGGA. Tetapi ingat !!! Oleh karena mengandung kadar racun tinggi maka harus berhati-hati untuk mengkonsumsinya terutama kepada wanita hamil. Buah segar dan bijinya bila dimakan akan menimbulkan efek sariawan, mabuk, kejang, dan bahkan pingsan. 

Walau dianggap sebagai dewa pengobat berbagai penyakit, tetapi jangan lupa apa yang ada dibalik petuah cerdas orang tuatua Melayu dahulu mengandaikan buah ini sebagai perumpamaan yang mengatakan; “Bagai Buah Simalakama, dimakan mati ibu tak dimakan mati ayah.” 

Sepertinya perumpamaan ini akan berlaku kepana manusia sepanjang jaman. Tetapi berlakunya perumpamaan ini sepertinya hanya kepada orang-orang yang mau perduli dengan kehidupan, atau kepada orang-orang yang mampu menggunakan otaknya sebagai peran pengambil keputusan dengan pertimbangan konsekwensi logis yang harus dihadapi. Seandainya kepada orang-orang yang belum mampu untuk menggunakan otaknya untuk mengambil keputusan maka perumpamaan ini kurang manjur sebagai petuah nasehat kuno.

Orang-orang tua dahulu sebenarnya sudah mengarahkan manusia-manusia sekarang ini untuk mengambil makna dari pepatah lama ini dalam menjalankan kehidupan baik untuk pribadi-pribadi maupun kelompok masyarakat dan bangsa. 

Apakah anda sebagai pribadi pernah mengalami situasi dan suasana seperti yang digambarkan oleh petuah ini? Apakah anda melihat dalam kelompok masyarakat bahwa petuah ini penting untuk disikapi oleh seorang pemimpin? Apakah dalam bernegara yang memiliki jumlah 240 juta rakyat ini ada tercermin petuah lama ini sebagai pertimbangan bagi pemimpin negri ini?  Kalau sekarang sering muncul istilah ‘jasmerah’ yang diartikan dari singkatan ‘jangan suka melupakan sejarah’, atau karena karena buah ini memang mampu berwarnawarni mirip mahkota yang indah atau seindah warna merahnya, maka ingat ! Bagai Buah Simalakama. (MPH06012011)

  1. ternyata ada……

  2. That great

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: