Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari

Pernahkah anda mendengar pepatah lama seperti judul di atas? Belakangan ini memang banyak kejadian yang menjadi gambaran dari pepatah Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari. Pepatah ini, pengartiannya lebih mengarah kepada hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seseorang, apalagi bila seseorang itu adalah seorang panutan maka yang menganutnya akan lebih tidak pantas lagi.

Pepatah ini mungkin saja hanya ada di Indonesia dan sepertinya tidak ada padanan kata dari pepatah ini pada bahasa asing. Jadi jelaslah bahwa pepatah ini memang asli produk Indonesia. Kalau memang asli Indonesia berarti pepatah ini ada setelah Indonesia ada.

Mengapa muncul kalimat pepatah seperti ini? Apakah benar semua guru kalau kencing memang berdiri? Apakah kalau kencing duduk atau jongkok lebih sopan? Atau apakah memang pernah terlihat bahwa murid kencing berlari?

Pada awal-awal kemerdekaan Indonesia memang semua masyarakat Indonesia sedang bersemangat melakukan kegiatannya secara bebas setelah selama ratusan tahun terkungkung oleh penjajahan. Mungkin banyak cita-cita bermunculan dikepala manusia-manusia Indonesia pada saat itu.

Sudah banyak tokoh-tokoh pendidik semasa pergerakan menuju Indonesia merdeka dan mereka tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai manusia-manusia yang membentuk manusia-manusia Indonesia sekarang ini. Namun pada masa itu belum dikenal istilah yang dipepatahkan ini.

Menjadi guru adalah suatu cita-cita yang sangat mulia dan terhormat terutama pada awal terbentuknya Negara Indonesia. Boleh dikatakan guru adalah sosok yang sangat dihormati oleh siapapun. Apa kata seorang guru dan itulah yang menjadi kebenaran. Pada masa itu jabatan guru hanya disandang oleh laki-laki, dan hampir tidak kedengaran perempuan yang menjadi guru. Mungkin di Indonesia belum ada emansipasi wanita sebagai guru di Indonesia. Maka muncullah istilah guru kencing berdiri, karena walaupun wanita memungkinkan kencing berdiri tetapi tidak lazim terjadi.

Mengapa laki-laki yang disebut kencing berdiri? bukankah lebih cocok bila laki-laki kencing jongkok? Pernah kejadian Mr. Professor melihat sendiri bahwa perempuan kencing berdiri, dan setelah dipikir-pikir kelihatannya memang lebih praktis.

Suatu ketika beberapa puluh tahun lalu, Mr. Professor melihat seorang perempuan yang sudah cukup tua sedang berdiri agak tersembunyi dari orang sekitar yang memang pada ketika itu agak ramai juga. Sang perempuan tua itu berpakaian sebagaimana ibu-ibu lainnya yaitu memakai blouse dan sarung yang melilit dipinggangnya. Perempuan itu menyingkir dari kelompok orang-orang dan berdiri agak dipojokan samping rumah walaupun tidak berapa jauh dari kelompok orang-orang yang ada disekitar itu. Perempuan itu tidak jongkok tetapi tetap dalam posisi berdiri. Tidak berapa lama perempuan itu kembali kepada kelompoknya. Karena tertarik dengan perilaku perempuan itu, maka Mr. Professor pergi ketempat dimana perempuan tadi memojok dengan maksud untuk melihat apa gerangan yang diperbuat perempuan itu berdiri menyingkir dari temannya. Yang ditemukan oleh Mr. Professor hanyalah tanah basah dan berair dan sedikit berbusa persis di tanah dimana perempuan tadi berdiri. Ini menunjukkan bahwa perempuan tanpa harus membuka sarungnya dan tanpa harus jongkok ternyata mampu kencing tanpa diketahui orang.

Tapi ya sudahlah, istilah Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari sudah pasti diasumsikan kepada laki-laki, karena orang tidak akan menyangka bahwa perempuan bisa juga kencing berdiri, dan bahkan murid perempuanpun bisa saja kencing berlari. Yang jelas bahwa istilah yang menjadi pepatah tersebut berlaku secara umum baik kepada laki-laki maupun kepada perempuan.

Tahun demi tahun, manusia Indonesia berkembang disegala bidang seiring dengan perkembangan pembangunan. Cita-cita yang dahulunya kebanyakan berkeinginan untuk menjadi guru berubah dan mereka-mereka mengganti cita-citanya berkeinginan menjadi Pegawai Negeri (abdi rakyat). Menjadi Guru sudah menjadi simbol pengbdian yang kurang mendapat penghargaan, baik secara materi maupun dari status sosialnya. Akhirnya sekolah-sekolah keguruan menjadi tujuan akhir dari seorang siswa yang akan melanjutkan pendidikannya. Ini dapat diartikan menjadi guru adalah orang-orang yang kalah bersaing dibanding dengan pendidikan lainnya.

Menjadilah manusia-manusia Indonesia dididik oleh orang-orang yang kalah bersaing. Cita-cita orang kebanyakan menjadi pegawai negeri adalah hasil didikan dari guru-guru yang kalah bersaing tadi, atau menjadi guru-guru sebagai pilihan terakhir.

Perkembangan jaman ternyata merubah pola pikir dari manusia-manusia Indonesia. Cita-cita menjadi pegawai negeri (abdi rakyat) ternyata mengalami degradasi karena berbagai lasalan. Ada alasan bahwa pegawai negeri bergaji kecil walaupun kenyataannya banyak mujizat terjadi apabila menjadi pegawai negeri. Materi pendidikan yang diberikan oleh guru-guru ternyata tidak berlaku pada pegawai negeri. Apabila sejuta dikali duabelas menurut guru matematika adalah duabelas juta, akan tetapi menurut pegawai negeri adalah seratus duapuluh juta. Mengapa bisa demikian? karena pada institusi yang mengabdikan dirinya kepada rakyat buklanlagi sebagi abdi rakyat melainkan sudah menjadi penguasa, sehingga rumus matematika yang dipelajarinya sudah menjadi rumus mematikan. Gaji yang tadinya satu juta rupiah sebulan menjadi seribu juta rupiah setahun. Inilah yang disebut korupsi yang sudah merajalela di semua lini institusi abdi negara.

Kalau sudah begini jadinya tidak perlu lagi ada guru, karena apa yang diajarkan oleh guru bukan itu yang dijalankan, lalu siapa yang disalahkan? apakah memang guru-guru bukan lagi sebagai panutan?

Ribuan pejabat yang korupsi, lima juta abdi rakyat menggerogoti, semua rakyat diporoti, semuanya  gara-gara Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: