MAKAN HATI

Hati Manusia; Foto: Wikipedia

Sebenarnya kita merasa sulit untuk mendefinisikan kata yang dirangkai dari huruf seperti kata berikut ini: h-a-t-i. Dalam tatabahasanya bahwa hati merupakan kata benda. Sebagai kata benda, ‘hati’ masih mempunyai dua pengertian yaitu yang bersifat nyata dan tak nyata (abstrak). Oleh karena itu, ‘hati’ memiliki kedudukan yang sangat istimewa dalam kehidupan manusia, terutama manusia Indonesia. 

Hati manusia atau binatang adalah organ berbentuk kelenjar di dalam tubuh yang letaknya di rongga perut agak kesebelah kanan. Hati berfungsi untuk detoksifikasi racun-racun yang terdapat dalam tubuh. Hati juga menghasilkan enzim arginase yang dapat mengubah arginin menjadi ornintin dan urea. Ornintin yang terbentuk dapat mengikat NH³ dan CO² yang bersifat racun. 

Fungsi lain dari hati adalah mengubah zat buangan dan bahan racun untuk dikeluarkan dalam empedu dan urin, serta mengubah glukosa yang diambil dari darah menjadi glikogen yang disimpan di sel-sel hati. Glikogen akan dirombak kembali menjadi glukosa oleh enzim amilase dan dilepaskan ke darah sebagai respons meningkatnya kebutuhan energi oleh tubuh. 

Sel-sel darah merah dirombak di dalam hati. Hemoglobin yang terkandung di dalamnya dipecah menjadi zat besi, globin, dan heme. Zat besi dan globin didaur ulang, sedangkan heme dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin yang bewarna hijau kebiruan, itulah yang disebut zat empedu. 

Di dalam usus, zat empedu ini mengalami oksidasi menjadi urobilin sehingga warna kotoran (taik) dan kencing terlihat kekuningan. Apabila saluran empedu di hati tersumbat, empedu masuk ke peredaran darah sehingga kulit penderita menjadi kekuningan. Orang yang demikian dikatakan menderita penyakit kuning. 

Empedu diproduksi oleh hati sekitar ½ liter setiap hari. Empedu berasal dari hemoglobin sel darah merah yang telah tua. Empedu merupakan cairan kehijauan dan terasa pahit. Zat ini disimpan di dalam kantong empedu . Empedu mengandung kolestrol, garam mineral garam empedu, pigmen bilirubin, dan biliverdin, sehingga berfungsi untuk mencerna lemak, mengaktifkan lipase, membantu daya absorpsi lemak di usus, dan mengubah zat yang tidak larut dalam air menjadi zat yang larut dalam air. 

Hati, misalnya hati-sapi, sangat kaya akan zat gizi, terutama kandungan retinol yang mencapai 13303 ug/100 g. Nutrisi lain yang tidak kalah pentingnya adalah protein 19.7 g, lemak 3.2 g, kalsium 7 mg, fosfor 358 mg dan zat besi 6.6 mg. Jadi kalau kita mengkonsumsi hati tentu disamping terasa enak dan juga menyehatkan badan. Maka bolehlah saya anjurkan supaya anda MAKAN HATI. 

Sekarang kita coba memberi sedikit waktu untuk membuka-buka perbendaharaan kata yang dirangkaikan dengan kata ‘hati’ maka akan muncul berbagai arti yang mempunyai makna tertentu, sebut saja: hati-hati, hati-nurani, hati kecil, sehati, kata-hati, hati-sanubari, pujaan-hati, buah-hati, jantung-hati, sakit-hati, dan, MAKAN-HATI. 

“Pada masa sekarang ini kita harus HATI-HATI menghadapi manusia-manusia Indonesia terutama para pejabat pemerintahan sebagai abdi rakyat termasuk wakil rakyat yang seolah tidak lagi memiliki HATI-NURANI. Tidak jarang HATI-KECIL kita mengatakan “mengapa anak-anak bangsa ini tidak pernah mau SEHATI untuk sama-sama mengurusi bangsa ini menjadi lebih maju?” Terkadang KATA-HATI ingin bicara, ingin marah, ingin protes, ingin berontak, tetapi apa hendak dikata seolah kita tidak memiliki kekuatan untuk merubah perilaku-perilaku itu, mungkin karena kita memang masih bodoh, takberdaya, dalam keadaan papa, nista, seolah tak berharga. Terpaksalah kita menanamnya dalam-dalam di HATI SANUBARI. Untuk menghibur diri, kita memang harus mampu seiasekata dengan PUJAAN-HATI bersama-sama membina dan mendidik BUAH-HATI agar kelak tidak menjadi orang-orang seperti yang tidak kita sukai itu. Tetapi setelah mereka bertumbuh dan mulai bergaul kesana kemari, ternyata JANTUNG-HATI kita itupun ikut terkontaminasi dengan segala sesuatu yang kita tidak sukai tentang perilaku kebanyakan masyarakat Indonesia ini. Lalu kitapun merasa SAKIT HATI dan kejadian pun berlarut-larut yang akhirnya membawa diri ini hanya pasrah dan MAKAN-HATI.” 

Kalau kita melihat pemaparan ilmu yang menerangkan tentang hati yang disebutkan diatas sebenarnya kita terbayang akan sesuatu yang menyenangkan bila MAKAN-HATI karena katanya memang mengandung banyak zat yang berguna untuk kesehatan. Coba kita bayangkan semangkuk gulai-hati sapi, atau soto-hati-sapi, atau sate-hati-sapi maka kenikmatan yang terbayang dibenak kita. Tetapi kalau kita penggal cerita seseorang diatan yang juga MAKAN-HATI maka kitapun dibingungkan untuk memilih yang mana. 

Kalau melihat dua pengertian diatas sepertinya lebih baik menjadi sapi daripada menjadi manusia, karena ternyata menjadi sapi dapat menyenangkan orang banyak, sementara menjadi manusia justru tidak dapat memberi kesenangan bagi manusia lainnya. Buktinya lebih senang orang-orang MAKAN-HATI sapi daripada MAKAN-HATI akibat ulah manusia. Jadi jangan makan hati manusia, cukup hati sapi saja. Anda pasti memilih lebih baik menyenangkan orang lain daripada menyusahkannya, ya…kan…? Betul…nggak?

  • Trackback are closed
  • Comments (1)
  1. Agree

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: