tuHANtu

God is dead

Kalau kita meluangkan sedikit waktu untuk kilas balik perjalanan hidup kita maka akan tergambar peristiwa-peristiwa yang pernah kita jalani, bagaikan pemutaran sebuah film cerita kehidupan. Kehidupan kita adalah novel yang boleh saja kita penggal-penggal menjadi cerita berseri dengan berbagai judul. Boleh juga kita mengelompokkannya berdasarkan durasi waktu, atau berdasarkan peristiwa-peristiwa penting, boleh juga berdasarkan masa-masa semisal masa kanak-kanak, masa pra-sekolah, masa Sekolah Dasar, Masa Sekolah Menengah Pertama, Masa Sekolah Menengah Atas, Masa Kuliah, Masa Mencari Pekerjaan, Masa Perkawinan, Masa Membina Keluarga dan Anak, Masa Berinteraksi Sosial dengan Berbagai Kalangan, dan banyak lagi masa-masa yang boleh direkam menjadi novel kehidupan.

Dalam berbagai periode kehidupan itu, semuanya memang pasti berhubungan dengan orang lain diluar diri kita sendiri. Manusia adalah mahluk individual yang bersosial yang artinya manusia itu tidak akan dapat hidup sendiri sebagai manusia, melainkan harus bergaul dengan manusia-manusia lainnya, dan menjadilah manusia itu berinteraksi sosial di dalam suatu komunitas manusia. Semakin banyak interaksi dengang mahluk manusia diluar dirinya itu maka semakin banyak pula cerita yang menjadi novel kehidupannya.

Manusiapun menjadi salah satu mahluk individual yang hidup bersama dengan mahluk-mahluk lainnya diluar manusia itu sendiri. Mahluk lain diluar mahluk manusia itu sendiri juga saling berinteraksi, apakah itu dengan kambing, kerbau, sapi, anjing, babi, tikus, kucing, monyet, ayam, burung, kecoa, nyamuk, ikan, dan mahluk lainnya. Semakin banyak interaksi dengang mahluk-mahluk diluar manusia itu maka semakin banyak pula cerita yang menjadi novel kehidupannya.

Manusiapun menjadi mahluk yang tidak mungkin hidup sebagai manusia bila tidak berinteraksi dengan alam lingkungannya. Mereka harus berinteraksi dengan tanah, dengan pohon, dengan batu, dengan sungai, dengan danau, dengan laut, dengan gunung, dengan angin, dengan air, dan dengan segala macam benda yang dapat diklasifikasikan sebagai alam. Semakin banyak interaksi dengang alam diluar itu maka semakin banyak pula cerita yang menjadi novel kehidupannya.

Kalau memang demikian maka manusia itu dapatlah diibaratkan seperti sebutir pasir diantara semua ciptaan, lalu mengapa manusia itu harus memegang peran penting dalam kehidupan ini? Setelah dipikir-pikir, ternyata manusia itu mempunyai keistimewaan dalam tubuhnya, yaitu otak. Diantara mahluk-mahluk yang memiliki organ otak, maka otak manusialah yang paling besar perbandingannya dibandingkan tubuhnya. Kalau begitu supaya lebih istimewa lagi maka manusia itu sudah harus menjaga otaknya agar ratio perbandingan tubuhnya tetap besar. Apakah bila seorang yang bertubuh besar lantas memiliki otak yang besar pula? belum tentu, bahkan bertambah besarnya tubuh seseorang, semisal gembrot, buncit, bongsor, akan terlihat bentuk kepalanya menjadi kecil dan tentusaja otaknyapun menjadi kecil pula, otaknya terletak di rongga kepalanya itu.

Singkatnya manusiapun memakai otaknya menjadi berperan utama dalam hidupnya. Lalu manusiapun menggunakan otak tersebut untuk hidup bersama dengan segala bentuk mahluk yang disebutkan tadi. Dan diantara mahluk manusiapun sudah saling menggunakan otaknya pula berdasarkan kepentingannya.

Seandainya seorang ingin menggunakan otaknya terhadap seekor tikus maka dia akan berpikir bahwa tikus ini cukup untuk aku makan untuk kebutuhanku setengah hari, maka kalau dia harus berpikir untuk tiga kali makan sehari, maka dia akan mencari tikus sebanyak tiga ekor sehari. Tetapi manusia tidak hanya berhenti disitu saja, melainkan diapun berpikir untuk mencari banyak tikus supaya esok harinya dia tidak perlu mencari tikus lagi. Karena keesokan harinya dia tidak mencari tikus lagi maka diapun mencari mangsa lainnya misalnya kecoa. Demikian pula seterusnya dan seterusnya. Karena manusia itu bukan hanya dirinya maka diri manusia yang lainpun demikian pula. Bila semua manusia berpikiran demikian maka kita boleh bayangkan bahwa manusia itupun suatu saat akan memakan manusia lainnya pula.

Ternyata manusia itupun mulai menggunakan otaknya untuk kebijakan, maka mereka sepakat untuk membuat nilai-nilai yang mengatur dirinya, maksudnya supaya tidak saling makan memakan, supaya berbagi mendapat porsi yang sama. Ternyata bagi manusia yang tubuhnya gembrot, bongsor tadi tidaklah adil baginya untuk berbagi dalam bilangan yang sama karena dia tidak lagi melihat dirinya sebagai satu tubuh melainkan sebagai satu takaran atau ukuran yang mungkin dua kali lipat dari manusia lainnya. Maka manusiapun mulai lagi saling makan memakan.

Ternyata kejadian itu disadari oleh manusia tidak menjadi baik bagi mereka maka merekapun sepakat untuk menciptakan tuhan yang kata mereka sebagai pencipta segalanya dan berkuasa atas segalanya dan manusiapun harus menyembahnya supaya segala ciptaannya itu tidak diambil dari kebutuhan manusia.  Maka jadilah tuhan yang digambarkan oleh manusia sesuai sosok yang ada dalam pikirannya.

Karena manusia sudah tidak memiliki kesamaan kebutuhan maka diapun terpokus kepada kebutuhan utamanya maka manusiapun memposisikan keutamaan tuhannya berdasarkan keutamaan dirinya. Maka terciptalah tuhan penguasa atas materi, apabila seseorang tidak memiliki materi maka dianggapnya tuhannya tidak berpihak kepadanya dan diapun menyembah tuhannya supaya dia mendapatkan materi yang dibutuhkannya. Demikian pula manusia lainnya yang membutuhkan keutamaan untuk menguasai manusia lain dan apabila dia tidak menemukan kekuasaan itu maka dianggapnya tuhannya tidak berpihak kepadanya dan jadilah dia menyembah tuhannya agar dia diberikan kekuasaan untuk menguasai orang lain. Apabila tuhannya memberikan permintaan itu mungkin tidak akan ada masalah, akan tetapi karena tuhannya masih sibuk untuk memenuhi permintaan manusia lain untuk kebutuhan mereka semisal manusia-manusia yang kelaparan akan beras untuk pangan, maka manusia yang memikirkan keutamaan kekuasaan itupun meninggalkan tuhannya dan dia berusaha untuk menjadi tuhan penguasa dan dia mengganggu tuhan yang sedang meladeni manusia yang bertuhankan beras, lalu terjadilah pertempuran, peperangan, pembunuhan, pembantaian, perbudakan, perampasan, perampokan, perkosaan, dan segala macam yang disenangi manusia lain tetapi tidak disenangi oleh manusia lainnya.

Manusiapun katanya menjadi bertuhan, manusia yang satu bertuhankan atas segala kenikmatan yang dia anggap nikmat, manusia lain juga bertuhankan atas segala yang nikmat menurutnya, dan manusia lainnya lagi juga demikian. Kalau yang tidak nikmat bagi masing-masing mereka katanya dari hantu. Lalu manusia yang satu bertuhankan atas kenikmatannya tetapi menjadi kenistaan bagi manusia lain dan orang lain inipun menganggap kenistaan yang dialaminya datang dari hantu yang berarti dari tuhan manusia lainnya tadi.

Demikianlah manusia ternyata sudah membawakan tuhannya masing-masing dan yang bukan tuhannya adalah hantu baginya. Kalau seseorang menganggap orang lain bertuhankan hantu dan dia yang bertuhankan tuhan dan demikian sebaliknya, dan sebaliknya lagi, maka identitas tuhan dan hantu sudah semakin tidak jelas lagi.

Sepertinya sekarang ini manusia sudah akan kompromi lagi untuk menciptakan bukan tuhan dan bukan hantu, barangkali mereka sepakat untuk menciptakan tuHANtu.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: