Kalau Boleh Dipersulit Mengapa Harus Dipermudah?

Di masa Orde Baru dahulu ada istilah yang cukup popular di Sumatera Utara yang disebut SUMUT. Kebetulan SUMUT diketahui umum sebagai singkatan dari Sumatera Utara yang dikenal sebagai  sebuah Propinsi di bagian utara Pulau Sumatera.

Pada masa itu kehidupan ekonomi secara umum memang tidak sesulit masa sekarang yang disebut Era Reformasi.  Yang dimaksud tidak sesulit masa sekarang adalah bila dilihat secara nasional dengan tingkat pengangguran relative lebih rendah disbanding sekarang ini.

Kegiatan ekonomi yang relative lebih baik tentu berkaitan dengan banyaknya kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan pemerintahan seperti instansi atau badan-badan yang dikelola oleh pemerintah, dimulai dari instansi-instansi  terkecil seperti di tingkat Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi. Di Kepolisian, Pengadilan, Sekolahan, Rumah Sakit, Kelistrikan, Komunikasi, khususnya semua kegiatan yang bersifat administrative.

Secara normative sudah pasti semua orang menginginkan kegiatannya berjalan dengan lancar. Namun apa yang terjadi pada masa itu bahwa untuk mendapatkan pelayanan umum ternyata harus mendapatkan kesulitan, berbelit-belit, sulit, dan berbiaya tinggi. Apabila ingin mendapatkan pelayanan yang seharusnya atau normalnya (lebih cepat dari yang berlaku umum) maka harus mengeluarkan biaya.

Oleh karena setiap berurusan dengan pemerintahan yang mengurusi pelayanan umum harus mengeluarkan biaya maka muncul istilah SUMUT yang diartikan sebagai singkatan dari Setiap Urusan Mesti Uang Tunai (SUMUT).

Ternyata kegiatan itu bukan hanya terjadi di Sumatera Utara saja tetapi secara nasional memang demikian tabiat dari oknum-oknum yang bernaung dibawah nama pemerintah bahwa mereka seolah tidak tau bagaimana seharusnya melayani masyarakat yang sebenarnya adalah rakyat yang menghidupi mereka melalui penggajiannya.

Jalur-jalur birokrasi yang demikian panjang membuat setiap proses membutuhkan waktu yang lama, padahal semua tau bahwa ‘waktu adalah uang’. Aparat pemerintahan yang tugasnya melayani masyarakat sangat memahami bahwa ‘waktu adalah uang’ maka merekapun memanfatkan pentingnya waktu untuk mendapatkan uang untuk setiap kegiatan yang dilakukannya.

Jangan salah, bahwa banyak minat orang untuk menjadi pegawai negeri walau harus menyogok dengan jumlah uang yang banyak. Mereka yang masuk menjadi Pegawai Negeri merasa yakin bahwa penghidupannya akan menjadi lebih layak walaupun dengan gaji kecil, ya tadi itu yang kita sebut dengan pemahaman tentang pentingnya ‘waktu’, mereka sangat fasih memanfaatkan managemen waktu.

Manfaat dari waktu, nilai kearifannya adalah menghemat penggunaan waktu, semisal tepat waktu, mengerjakan sesuatu dengan cepat, sehingga diperoleh penghematan waktu yang dapat dikonversikan dengan nilai uang. Logikanya; apabila saya mampu menghemat waktu maka saya mendapat keuntungan yang dapat dikonversi dengan nilai dari banyak hal atau dalam bentuk nilai uang. Itulah makna hakiki dari ‘waktu’.

Ternyata makna hakiki dari waktu itu, walaupun makna itu sudah pasti difahami sama oleh semua orang di dunia ini, tetapi bagi aparat pemerintahan justru sebaliknya. Apabila masuk kantor terlambat, pulang kantor lebih cepat, menyelesaikan pekerjaannya lebih lambat, ternyata mereka secara pribadi mendapatkan keuntungan, karena dia telah menciptakan kesulitan pada orang lain. Dengan menciptakan kesulitan itu maka dia mendapat keuntungan pribadi yang dapat dikonversikan dengan uang. Semakin dipersulit sebuah urusan maka semakin menghasilkan keuntungan bagi dirinya.

Muncul istilah sakti bagi aparat pemerintahan: “Kalau Boleh Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah?” Sebuah logika dasar yang ampuh. Sebuah rumusan waktu yang canggih. Dengan menciptakan kesulitan yang merugikan orang lain akan lebih menguntungkan bagi dirinya. Apabila kita analogikan antara untung-rugi dengan hidup-mati, maka mereka lebih menginginkan biarlah orang-orang mati asal saya hidup. Jadi bagi orang-orang seperti ini mungkin tidak mengenai sama-sama hidup berbangsa.

Di era reformasi ini; Masihkah anda mendengar istilah, “Kalau Boleh Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah?” Masihkah anda merasakan perilaku, “Kalau Boleh Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah?” Masihkah anda mengalami, “Kalau Boleh Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah?” Atau memang anda sendiri yang sedang menjalankan, “Kalau Boleh Dipersulit, Mengapa Harus Dipermudah?” Renungkan…………

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: